Walhi sebagai jaringan pembela lingkungan Hidup yang independen untuk mewujudkan masyarakat dan tatanan Lingkungan Hidup yang adil dan demokratis berupaya melakukan perannya diantaranya melakukan monitoring dan pengawasan terhadap aktifitas-aktifitas yang berpotensi merusak dan mencemari lingkungan, serta mendorong terciptanya pengelolaan Sumber Daya Alam(SDA) yang adil dan demokratis
Entri Populer
-
Provinsi Sumatra Barat Perda Tanah Ulayat Belum Ada Padang Ekspres Berita Pemerintahan Selasa, 10/01/2012 - 08:13 WIB RPG 60 klik Pe...
-
MALIGI DITINJAU DPRD SUMBAR PASBAR, HALUAN — Warga Maligi minta mereka tidak dipersepsikan sebagai penjahat, mereka adalah korban dari tind...
-
Pembalakan Marak di Hiliran Gumanti Warga Kirim Surat ke Instansi Terkait Padang Ekspres • Jumat, 13/01/2012 14:29 WIB • (mg9) • 21 klik S...
Cari Blog Ini
Kamis, 08 Desember 2011
Kekerasan Aparat di MALIGI KAB. PASAMAN BARAT
KRONOLOGIS
TRAGEDI MALIGI KAB. PASAMAN BARAT
Kasus kekerasan aparat kepolisian terhadap petani di Jorong Maligi Kenagarian Sasak Kecamatan Sasak Ranah Pesisir Kabupaten Pasaman Barat pada tanggal 8 November 2011 menyimpan banyak cerita dan fakta yang selama ini belum terungkap. Dalih bahwa aparat melakukan kekerasan karena masyarakat bertindak anarkis dengan membakar kantor PT PHP II adalah tidak benar. Sementara 18 orang korban luka-luka, sakit dibagian perut, punggung serta kepala, kaki-tangan terkilir, hingga patah serta mengalami keguguran pasca kejadian ternyata hanyalah sepenggal cerita dari tragedi di Titik Nol.
Kamis, 03 November 2011
banjir kab.pesisir selatan
Empat Orang Meninggal Akibat Banjir di Pesisir Selatan
Nasional / Kamis, 3 November 2011 14:36 WIB
Metrotvnews.com, Padang: Banjir di enam kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, menelan korban jiwa. Tim Search and Rescue (SAR) telah mengevakuasi tiga korban meninggal di Kecamatan Lengayan, yakni Isnaidarni (40), Naisya (8) dan Santia (22). Satu orang korban dari Dusun Padang Laban, Kecamatan Ranah Pasisir, hingga kini belum diketahui namanya.
Hal itu dikatakan Operator Pusdalops BPBD Sumatra Barat Suryadi di Padang, Kamis (3/11). Banjir bandang terjadi pada enam kecamatan, yaitu Ranah Pasisir, Lengayan, Sutra, Lenggo Sari Baganti, Pancu Soal, dan Batang Kapas. empat dari enam kecamatan merupakan yang terparah.
Nasional / Kamis, 3 November 2011 14:36 WIB
Metrotvnews.com, Padang: Banjir di enam kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, menelan korban jiwa. Tim Search and Rescue (SAR) telah mengevakuasi tiga korban meninggal di Kecamatan Lengayan, yakni Isnaidarni (40), Naisya (8) dan Santia (22). Satu orang korban dari Dusun Padang Laban, Kecamatan Ranah Pasisir, hingga kini belum diketahui namanya.
Hal itu dikatakan Operator Pusdalops BPBD Sumatra Barat Suryadi di Padang, Kamis (3/11). Banjir bandang terjadi pada enam kecamatan, yaitu Ranah Pasisir, Lengayan, Sutra, Lenggo Sari Baganti, Pancu Soal, dan Batang Kapas. empat dari enam kecamatan merupakan yang terparah.
Selasa, 01 November 2011
Press Realease
Tim Penasehat Hukum Pedagang Pasar Raya Padang
Penangkapan dan penahanan terkait sengketa rehabilitasi dan rekonstruksi Pasar Raya Padang oleh Polresta Padang pada tanggal 22 Oktober 2011 adalah kali kedua yang dialami Sofyan. Sebelumnya, hal yang sama juga dialami Sofyan dalam perkara dugaan pengrusakan pos penjagaan rumah dinas Wali Kota Padang pada saat demonstrasi tanggal 10 Februari 2010. Penangkapan dan penahanan yang dilakukan Polresta (ketika itu masih Poltabes) Padang akhirnya digugat dan dimenangkan Sofyan Cs melalui praperadilan dan dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Padang melalui putusan No.2/Pid.Pra/2010 PN Padang.
Kamis, 13 Oktober 2011
Advokasi Anti
Kekerasan Terhadap Masyarakat Sipil
16 orang advokat
dampingi korban tindakan kekerasan
Tragedi 1 Syawal
1432 H Pasar Raya Padang
Pada tanggal 31
Agustus 2011 atau 1 Syawal 1432 H, Kira-kira pukul 16.00 Wib. Telah terjadi pemagaran
paksa Pasar Inpres II, III dan IV yang dilakukan oleh Pemerintah daerah Kota
Padang dengan pengamanan aparat Polri, Satpol PP, TNI, Dinas Kebakaran, Dinas
Perhubungan yang disertai dengan mobil pemadam kebakaran, Water Canon, dan Unit PHH serta kendaraan taktis (rantis).
Sementara pedagang bertahan di lokasi jalan masuk ke pasar.
Melihat kedatangan
mobil water canon, pedagang melakukan
penghadangan dengan cara tidur, bersujud di jalan sambil meneriakkan takbir
memohon agar pemagaran tidak dilakukan. Namun tiba-tiba dari arah belakang
dengan menyeruak diantara anggota Satpol PP dan pasukan PHH Dalmas, petugas
pemadam kebakaran menyemprotkan air dengan kekuatan penuh ke arah pedagang yang
tidur dan sujud di jalan sambil mengumandangkan takbir. Sehingga pedagang yang
berada ditempat berhamburan. Beberapa orang pedagang tetap
Kamis, 06 Oktober 2011
WARGA TUNTUT HAK PLASMA
Minta Bupati Terbitkan SK Peserta Plasma
Para pendemo juga meminta adanya jaminan bupati bahwa orang luar yang bukan masyarakat di dua daerah itu menjadi peserta plasma. Selain itu, massa meminta PT AMP menghentikan aktivitas transaksi keuangan KUD Mutiara Sawit Jaya (MSJ).
| Kamis, 28 April 2011 02:27 |
| Sekitar 1.500 hektare hutan TNKS di Pessel gundul akibat pembalakan liar. Walhi Sumbar menilai, meningkatnya pembalakan liar ini karena tidak adanya perhatian pemerintah pusat terhadap kebutuhan kayu di Sumbar. PAINAN, HALUAN—Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) kini mengalami kerusakan dan penggundulan hebat. Setidaknya berdasarkan data Balai Besar TNKS Wilayah III Pessel, 1.500 hektare hutan setahun terakhir telah gundul akibat dibabat pembalak liar. Pembalakan itu dilakukan oknum yang sengaja membayar masyarakat, baik untuk kepentingan pengambilan kayu atau perluasan kawasan peladangan. Pada beberapa kawasan, justru pembabatan dilakukan di kawasan sember air dan habitat hidup satwa TNKS. Kepala Seksi Pengelolaan TNKS Wilayah III Kamaruzzaman, Rabu (27/4) mengatakan, kerusakan paling merisaukan terdapat di Kecamatan Sutera dan Lengayang. Di kecamatan ini setidaknya terdapat 700 hektare hutan yang digunduli. Kamaruzzaman mengatakan, sejumlah upaya telah dilakukan TNKS untuk mengantisipasi pembalakan. Misalnya melakukan pendekatan ke masyarakat, termasuk pemerintahan terendah. “ |
Langganan:
Postingan (Atom)